Tuesday, June 14, 2005

Jodoh, Nikah and Faith

Gue akhirnya mutusin nikah.

For those who unfortunatelly know me, dont laugh. Well, gue adalah orang yang dikenal dengan postulat kalo nikah itu masuk kotak. Nggak ada lagi ruang pribadi buat diri lo. Banyak hal yang harus dikompromiin sementara lo udah ada di kondisi yang sulit banget dikompromikan. Sebuah kondisi nyaman dimana lo benar-benar 'hidup'. Dimana lo jadi diri lo sendiri. Jadi, gue sempat berpikir, ada orang-orang yang terlalu 'terlambat' buat menikah dan memang lebih baik hidup sendiri. And I'm pretty sure, I'm one of those.

Di samping itu, ada hal lain yang jadi pondasi berpikir gue, kenapa kompromi dengan pasangan adalah hal yang 'ajaib'. Konsep jodoh. Dari sebelum 17 tahun gue udah mikirin ini. Karena tiga konsep rejeki, maut dan jodoh bisa gue terima dengan tanpa pertanyaan kecuali yang terakhir.

Kenapa tukang becak yang jujur nyari 25 ribu aja setengah mati lalu ada anak kemaren sore udah jadi brand manager bergaji 25 juta sebulan, bisa gue terima. Rejekinya udah diatur. Tiap kerja keras beda nilainya. Kenapa ada bayi polos baru tiga bulan bisa meninggal sementara junkies umur 60 tahun belum mati-mati, itu karena maut urusan Allah.

Sementara jodoh? Siapa jodoh kita? Dimana batasannya? Kalo nikah aja bisa cerai, yang mana yang namanya jodoh? Agak sulit gue terjemahkan dan gue jawab. Sampe akhirnya, gue ketemu sama 'anak kecil' yang menyentak gue dengan kesadaran, kalo jodoh sama nikah nggak ada hubungannya.

Ya, jodoh sama nikah nggak ada korelasinya. Kenapa? Sebab jodoh di tangan Allah. Sama kelasnya dengan misteri rejeki dan maut. Kita nggak akan tahu apakah pasangan yang sekarang ada di sisi kita itu jodoh kita sampe kita bener-bener tutup usia. Jadi nikah bukanlah bukti kalo orang itu jodoh kita apa bukan.

Yang bisa kita lakuin adalah mempertanyakan kenapa nikah? Kenapa lo mau nikah, boy? Gue mau nikah karena nikah menyempurnakan setengah agama gue. Karena nikah sumber berkah. Bukan pacaran [or whatsoever] tapi nikah. Dan gue iman sama kalimat-kalimat itu. Kalo situ nggak iman, ya no problem. Pembuktiannya nanti kok, nggak sekarang. Sekarang sih, free will.

Lalu gue memutuskan untuk mengetahui apakah 'anak kecil' ini jodoh gue apa bukan sambil menyempurnakan agama gue dan dapet berkah dengan nikah. Bukan dengan pacaran lama-lama [fyi waktu pacaran emang tidak menentukan apa-apa. Udah banyak contoh. Gue pernah pacaran tiga tahun dulu. Dan sama 'anak kecil' ini empat bulan 'udah' cukup buat gue] Kalo ternyata kita nggak jodoh, at least we doing something that we believe is very beautiful. Gimana nggak indah? Agama lo jadi lebih lengkap dan lo dapet berkah dari Tuhan lo. Kuncinya sekali lagi ada di iman.

Tapi satu hal, pada saat lo nggak percaya nikah, bukan berarti nikah itu lantas nggak ada. Lantas nikah jadi sesuatu yang 'salah'. Persis ketika lo ngebelakangin bulan, bukan berarti bulannya hilang. Lo milih untuk nggak liat bulan. Atau ketika lo milih nggak lewat Sudirman tapi menuju Kuningan. Sudirman tetep ada. Believe it or not, nikah its there. Lying right in front of your journey.

Banyak orang pusing mikirin pacarnya jodoh atau bukan. Atau segepok barrier lainnya. Mulai dari takut cerai, punya anak, mertua, kesiapan ekonomi, belum siap mental, dsb. Gue juga begitu, sampe akhirnya, gue ketawa sendiri. "Sok ribet lo! Mau nikah apa nggak? Toh semua ada konsekuensinya. Your time is ticking away." Sementara anak orang masih dideketin juga. Malu juga jadi 'banci' begitu. Mau lo apa sebenernya? Nikah atau nggak?

Dan akhirnya gue memutuskan untuk nikah. Bukan karena yakin dia jodoh gue, tapi justru pingin ngebuktiin dia jodoh gue apa bukan. With my faith.

nb: jangan jadiin gedung penuh menghalangi kita Ed... :D

7 Comments:

Blogger Ninit said...

selamat menikah ris :) turut berbahagia dengan rencananya...

mun ceuk urang sunda mah, 'ngeunah euy!'

hehehhee... buktikan saja sendiri :)

5:30 PM  
Blogger soleh said...

rupanya salman aristo telah mengikuti kata hatinya. bener ris. lamun urang terlalu ngariweuhkeun masalah jodoh atau lain, engke bisa-bisa moal nikah-nikah.

nu penting mah, geus aya nu daek. plus aya keberanian. eta we. nu dibutuhkeun jang menikah. ceuk urang mah. tah, berhubung urang can boga awewe nu daek, urang ngan bisa mengucapkan selamat. syukuri ris, nikmat teh. hahaha. sok bijak kieu, nya?

5:53 PM  
Blogger LUNATIC DWEEBSTARR said...

Alhadulillaahhh... tentunya elo menuliskan curahan hati lo setelah mengalami berbagai pemikiran yang mendalam yah. Bagus lah Ris kalau begitu. Mudah-mudahan Soleh segera menyusul... hihi

6:22 PM  
Blogger Hendro said...

Untuk sebuah kotak, buat gue pernikahan adalah sebuah tantangan: beranikah kita berpikir keluar dari kotak?

8:27 PM  
Blogger politicaltears said...

dulu beberapa saat sebelum hari pernikahan gue, Mas Noe pernah bilang sama gue, "Ah kamu, kecil-kecil kawin, kamu sih bukan kawin, main rumah-rumahan doang!"

Ternyata setelah dipikir-pikir bener juga. Gue emang main rumah-rumahan. Tapi ternyata "pernikahan" yang sebenernya berangkat dari situ.

Keputusan untuk langsung tinggal di "kotak" kami sendiri [elo belum pernah main ke rumah gue and Adit sih yah? rumah knock down yang panas dan sangat sederhana, tanya jeng Yarra deh, atau tanya Wiwin dan Item lah yang udah beberapa kali bertamu] yang meski tidak senyaman rumah orang tua kami masing-masing, tapi pada akhirnya melengkapi "pernikahan" yang real kami jalani.

Pada akhirnya masuk ke "kotak" baru. Meski kotak itu agak sempit dan nggak seleluasa sebelumnya dan harus dibagi dengan orang lain, tapi "kotak" baru ini ternyata oh ternyata lebih menarik dari yang sebelumnya. Believe me!

I'm so happy to hear you've decided to get married, that's BIG step, BISMILAH, semoga semua lancar ...

PS: baca tulisan gue di blog yang judulnya PANCI [dalam arti sebenarnya], lumayan buat warming up, nanti topik2 pembicaraan elo bukan lagi soal belanja DVD, CD, dll, coba topik baru: peralatan dapur.

7:55 AM  
Blogger herizal alwi said...

Menikah untuk menyempurnakan separuh agama, cukupkah?

”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (H.R. Baihaqi)

Hadist di atas sangat masyhur di kalangan muslim. Tapi sayang, yang banyak dibicarakan sekedar menikah itu menyempurnakan separuh agamanya. Padahal kan nggak berhenti di situ. Coba kita amati lagi hadist tersebut. Di bagian belakang hadist tersebut ada kata-kata "...maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya".

Ini yang mungkin kurang dibahas. Bahwa menyempurnakan agama itu nggak cukup hanya separuh saja (dengan jalan menikah). Tapi mustinya ada ghirah, ada semangat untuk menyempurnakan agamanya secara utuh. Nggak lucu dong kita menyempurnakan tapi separuhnya doang. Ibarat kita bangun rumah tapi temboknya cuma setengah tingginya trus nggak ada atapnya. Mana bisa dipakai buat berteduh, ya nggak?

Terus bagaimana tuh caranya? Nggak ada cara lain, ya dengan bertakwa kepada Allah supaya agamanya sempurna, utuh.

Nah, di sinilah pernikahan itu akan menjadi barokah, akan menjadi manfaat ketika pernikahan itu dipakai sebagai sarana meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Jadi mustinya pernikahan itu membuat ketakwaan atau paling tidak semangat seseorang untuk memperbaiki ketakwaannya kepada Allah meningkat. Ibadahnya makin rajin, shodaqohnya makin bagus, yang jadi suami lebih rajin, lebih semangat nyari nafkah, dll.

Jadi lucu kalau ada orang yang setelah nikah justru ibadahnya melorot. Musti ada yang dikoreksi dalam dirinya. Apa nih kira-kira yang salah?

Lalu ada pertanyaan begini: kan nggak ada ukuran baku buat menilai ketakwaan seseorang naik apa nggak, gimana cara ngukurnya?

Kita mah nggak perlu menilai orang lain ya. Cukup kita nilai diri kita sendiri. Setelah nikah, shalat kita gimana? Shadaqah kita gimana? Ngaji kita gimana? Intinya, seberapa baik kita menjalankan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya. Ada perbaikan, tetep segitu aja, atau malah merosot?

Yuk, yang udah pada nikah kita introspeksi diri lagi, muhasabah lagi. Tapi nggak cuma yang udah nikah aja. Yang belum nikah juga kudu introspeksi, kudu muhasabah. Mempersiapkan diri dan mengingatkan diri sendiri supaya kalau nanti udah nikah tambah baik lagi.

Jadi sekarang kita punya goal nih, punya target yang amat sangat penting buat kita raih.
Targetnya: MENYEMPURNAKAN AGAMA SECARA UTUH, NGGAK CUMA SETENGAH.

7:32 PM  
Blogger Inklocita said...

waaa semoga berbahagia selalu

7:31 PM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home